Nama : Latifah Khofifaturrohmah
NPM :
2001031018
Prodi : PGMI (C) smt. 1
Mata
Kuliah : Ilmu Pendidikan Umum
REVIEW JURNAL
Jurnal Kelompok 1
Judul : HAKIKAT PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Penulis : Fitriatul
Lydia Zulfa
Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah
Latar Belakang : Pada
dasarnya hakikat pendidikan sangatlah luas. Hakikat pendidikan bukanlah hanya
sekedar pengertian serta definisi pendidikan semata. Didalam hakikat pendidikan
banyak hal menarik untuk dipelajari, seperti objek ilmu pendidikan dan
macam-macam ilmu pendidikan. Pada hakikatnya, pendidikan adalah suatu usaha
manusiauntuk meningkatkan ilmu pengetahuan, yang didapat dari lembaga formal
maupun nonformal.
Kesimpulan : Ilmu pendidikan adalah suatu kumpulan pengetahuan
atau konsep yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode
tertentu yang bersifat ilmiah yang menyelidiki, merenungkan tentang
gejala-gejala perbuatan mendidik atau suatu proses bantuan yang diberikan oleh
orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya dalam
rangka mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang bermakna. Dalam
Pendidikan ada yang namanya fondasi pendidikan yakni sesuatu yg mendasari
pelaksanaan pendidikan, diantaranya 1) Fondasi historis 2) Fondasi filosofis 3)
Fondasi sosiologis dan 4) Fondasi Sosiologis.
Jurnal Kelompok 2
Judul : HAKIKAT KEMANUSIAAN MANUSIA
Penulis : Aprilia Yosanita
Safitri, Fitri Ambarsari
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Hakikat manusia adalah makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat
menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Individu yang
memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual
dan sosial.
Kesimpulan :
Hakikat penciptaan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam semesta dan
lingkungannya. Hakikat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri
sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. 1) Hakikat manusia menurut
pandangan umum, yakni mempunyai arti bermacam-macam, karena tedapat berbagai
ilmu dan perspektif yang memaknai hakikat manusia itu sendiri. 2) Hakikat
manusia menurut pandangan Islam yaitu, manusia adalah makhluk ciptaan Allah
SWT., kemandirian dan kebersamaan (individualitas dan sosialita), manusia
merupakan makhluk yang terbatas. Adapun wujud sifat hakikat manusia, yaitu
kemampuan menyadari diri, kemampuan bereksistensi, kata hati, tanggung jawab,
rasa kebebasan, kewajiban dan hak, dan kemampuan menghayati kebahagiaan.
Jurnal Kelompok 3
Judul : PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU PENDIDIKAN
Penulis : Candra Murtadho,
Syaffa Marantika Agustin
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Pendidikan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan juga sebagai
dinamisator masyarakat itu sendiri. Ilmu pendidikan termasuk ilmu pengetahuan empiris yang diangkat dari
pengalaman pendidikan, kemudian disusun secara teoritis untuk digunakan secara
praktis. Dengan menempatkan kedudukan ilmu pendidikan di dalam sistematika,
ilmu pengetahuan sebagai ilmu normatif dan ilmu pendidikan sebagai ilmu
teoritis dan praktis.
Kesimpulan :
Pendidikan merupakan aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan
kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya. Sedangkan
pengetahuan adalah objek dari pada manusia melakukan proses pendidikan itu
sendiri. Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu
apabila dapat memenuhi persyaratannya, yaitu; ilmu mensyaratkan adanya obyek
yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang
manusia (Biopsikososial).
Jurnal Kelompok 4
Judul : PENDIDIKAN PESANTREN
Penulis : Eka Yunita Lestari,
Putri Arianti
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Pendidikan pesantren adalah
cikal bakal institusi pendidikan Islam di Indonesia. Keberadaan pesantren
merupakan mitra ideal bagi institusi pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan
kualitas pendidikan dan landasan karakter bangsa. Hal ini dapat ditemukan dari
berbagai fenomena yang terjadi seperti perkelahian antar sekolah dan
distributor yang tersebar luas dan pengguna narkoba di kalangan anak muda
jarang ditemukan mereka adalah anak-anak asrama atau lulusan dari pesantren.
Kesimpulan : Sistem Gradasi dan Kurikulum Pendidikan Pesantren dalam format
tradisional memiliki sistem gradasi pendidikan dan kurikulum longgar (non-fixed
curriculum) berdasarkan pada penguasaan kitab Islam klasik, artinya tidak
dibatas pada rentang waktu tertentu secara pasti, seperti triwulan, caturwulan,
semester atau tahun ajaran. Penggolongan kitab klasik ada tiga kelompok, yaitu kitab-kitab
dasar (grade I), kitab-kitab tingkat menengah (grade II), dan kitab-kitab besar
(grade III). Karena pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan, disiplin
keilmuan sebagai mata pelajaran adalah mata pelajaran yang berkaitan dengan
masalah keagamaan (Islam). Pesantren memiliki pendekatan edukasi yang khas yang
tetap dipertahankan tanpa terpengaruh oleh teori-teori pendidikan modern yang
silih berganti karena perbedaan pendekatan filosofis yang lebih mementingkan
aspek moral daripada pengetahuan, haruslah demikian. Pesantren lebih
menggunakan konsep pengajaran, alih-alih pembelajaran.
Jurnal Kelompok 5
Judul : TEORI-TEORI PENDIDIKAN DALAM ALIRAN
KLASIK
Penulis : Helma Yanti, Uswatun
Hasanah
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Belajar merupakan intisari hidup, hidup manusia yang selalu belajarlah
yang dapat meningkatkan kualitas hidup. Nativisme berpendapat bahwa
perkembangan manusia ditentukan oleh potensi sejak lahir dan lingkungan tak
dapat merubahnya. Sedangkan aliran Empirisme menjelaskan bahwa manusia sangat
dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan alam sekitarnya. Aliran Konvergensi
berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya sangat menentukan
perkembangan manusia.
Kesimpulan :
Pandangan para ilmuan mengenai pembawaan anak didik yaitu, 1) Aliran
Empirisme. Tokoh utama aliran ini ialah John Locke, yang berpendapat bahwa
perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh
lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil.
2) Aliran Nativisme, berpendapat bahwa sejak lahir anak telah memiliki atau
membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu, yang bersifat pembawaan atau
keturunan. Dalam ilmu pendidikan, pandangan tersebut dikenal dengan pesimisme
paedagogis. Tokoh utama aliran ini ialah Schopenhauer. 3) Aliran Konvergensi,
dimunculkan oleh ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, William Stern yang mengatakan
bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia. 4)
Aliran Naturalisme. Pandangan aliran nativisme dan naturalisme menyatakan
pendidikan sebagai bagian dari sifat pembawaan dan faktor alami manusia
(individu) siswa. Naturalisme adalah teori yang menerima “natura” (alam)
sebagai keseluruhan realistis.
Jurnal Kelompok 6
Judul : TEORI BELAJAR BERDASARKAN ALIRAN PSIKOLOGI HUMANISTIK DAN IMPLIKASI PADA PROSES BELAJAR PEMBELAJARAN
Penulis : Lailatul Fauziyah
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Pada psikologi humanistik pendidik sebagai fasilitator. Pendidik humanistik
diharapkan menjadi pendidik manusiawi sehingga pendidik bisa mengarahkan
peserta didik untuk meningkatkan potensi dirinya. pendidik akan melaksanakan
pembelajaran dan peserta didik belajar dari pengalaman mereka sendiri.
Kesimpulan : Teori humanistik bertujuan
menjadikan manusia seutuhnya sehingga dapat paham terhadap perubahan lingkungan
dan dirinya sendiri. Manusia pada pendidikan humanistik bersifat kemanusiaan
yang dilihat secara filosofis, dengan hal ini paradigma pendidikan memilki
harapan besar terhadap nilai pragmatis iptek tidak bisa mematikan kepentingan
dan kemanusiaan. Sehingga peserta didik terjaga dari dampak negatif teknologi
serta keadaan kehidupan manusia menjadi kondusif dan aman. Psikologi humanistik
menganjurkan pendidik sebagai fasilitator. Pendidik humanistik adalah pendidik
yang manusiawi. Psikologi humanistik mengarahkan peserta didik untuk
meningkatkan potensi intelektual yang
peserta didik miliki. Teori belajar humanisme dipelopori
oleh Abraham Maslow, Arthur Combs dan Carl Rogers.
Jurnal Kelompok 7
Judul : FAKTOR PENDIDIKAN
Penulis : Latifah Khofifaturrohmah
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang : Pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam. pendidikan Islam sangat penting bagi manusia yaitu, untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepada-Nya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat.
Kesimpulan : Pelaksanaan Pendidikan Islam perlu diperhatikan faktor-faktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya pendidikan. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu, tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan lingkungan pendidikan. Kelima faktor tersebut merupakan satu kesatuan pendidikan yang masing-masing berdiri sendiri, tetapi berkaitan satu sama lainnya agar nantinya mencapai tujuan yang diinginkan.
Jurnal Kelompok 8
Judul : PERAN KELUARGA, PEMERINTAH, DAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN
Penulis : Lailatul
Khusniaty, Sa’diyatul Khasanah
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Era globalisasi membawa dampak, baik dampak positif maupun negatif dalam
kehidupan semua orang termasuk dalam keluarga. Keluarga mempunyai peranan yang
besar dalam membentuk karakter anak karena waktu yang dimiliki anak semua
bersama keluarga. Namun demikian, pemerintah perlu memasukkan pendidikan
karakter dalam kurikulum, baik secara implisit, maupun eksplisit. Pendidikan
akan berjalan dengan baik jika didukung oleh semua aspek pendidikan yang meliputi keluarga, masyarakat
dan sekolah.
Kesimpulan : Peran
keluarga dalam pendidikan tidak dapat disangkal lagi bahwa keluarga memunyai pengaruh yang besar dalam
sosialisasi pendidikan bagi anak-anak. Orang tua adalah guru dalam pendidikan
karakter yang memunyai pengaruh sangat besar dan bertahan lama karena hubungan
orang tua dan anak berlangsung sepanjang hayat, tidak dapat diputus oleh siapa
pun atau dengan sebab apa pun. Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidikan
anak merupakan sebuah proses mendidik,
mengasuh, dan melatih jasmani dan rohani yang dilakukan orang tua sebagai
tanggung jawabnya terhadap anak dengan berlandaskan nilai baik dan terpuji
bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan pemerintah dengan semua aparat
dan jajarannya perlu menampilkan diri sebagai pelayan yang cepat tanggap, sepat
memberikan perhatian, tidak berbelit-belit, dan bukan minta dilayani. Adapun erannya
yaitu, sebagai fasilitator, sebagai pendamping, sebagai mitra, dan sebagai
penyandang dana. Adapun msasyarakat merupakan
tempat anak berinteraksi dengan dunia luar dalam cakupan yang lebih luas. Di
sinilah anak mulai belajar untuk membangkitkan minat kepada sesuatu yang
dicita-citakannya.
Jurnal Kelompok 9
Judul : HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA LINGKUNGAN
PENDIDIKAN
Penulis :
Deni Astuti, Ecah
Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah
Latar
Belakang : Dalam masalah pendidikan, lingkungan
memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak atau
peserta didik. Peran lingkungan dalam membentuk dan mewujudkan kepribadian
seseorang, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam adalah masalah yang
tidak bisa diabaikan oleh siapa pun, khususnya bagi orang tua, guru atau
pendidik pada umumnya. Bagi peserta didik, lingkungan pendidikan adalah wadah
(mediasi) untuk mengembangkan diri dan membangun karakter diri melalui berbagai
kegiatan edukasi, baik program kurikuler maupun ekstrakulikuler.
Kesimpulan : Pendidikan dalam
lingkungan keluarga (nonformal) memiliki peranan yang sangat penting karena
setiap individu mendapatkan pendidikan yang pertama dan utama berasal dari
lingkungan keluarga. Selain dari keluarga pendidikan dapat diperoleh pula dari
lingkungan formal, dalam hal ini sekolah atau lembaga formal lainnya yang
berkompeten dalam bidang pendidikan. Dalam lingkungan formal ini setiap
individu akan mendapatkan pendidikan yang lebih luas mengenai pedoman dan etika
moral kemanusiaan untuk bekalnya dalam menghadapi pergaulan di masyarakat.
Lingkungan ketiga yang menjadi penentu sukses tidaknya pendidikan individu
adalah lingkungan masyarakat (informal), lingkungan ini menuntut pengaplikasian
pendidikan yang telah didapat oleh seorang individu baik dari lingkungan
keluarga maupun dari lingkungan formal. Ketiga lingkup pendidikan ini tentu
dapat diandalkan jika
pembinaan moral agama tetap menjadi materi pendamping demi pencapaian hasil
yang maksimal.
Jurnal Kelompok 10
Judul : SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Penulis :
Mutiara Kharisma, Rosyidah Diyanah Rahmawati
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Sistem pendidikan
nasional Indonesia dimaksudkan untuk menjamin pemerataan kesempatan pendidikan,
meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan, serta efisiensi manajemen
pendidikan dalam menghadapi tuntutan globalisasi. Era globalisasi yang sedang
terjadi saat ini dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks dan persaingan
sumber daya manusia yang semakin ketat, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia
yang unggul dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu upaya
pemerintah untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul adalah
melalui pendidikan. Indonesia
sebenarnya menghadapi masalah mendasar yaitu mutu pendidikan yang cenderung
masih rendah. Hal ini disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia yang
buruk.
Kesimpulan : Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap
terhadap tuntutan perubahan zaman. Sistem pendidikan nasional adalah
keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional. Fungsi dari pendidikan nasional yang
tertuang dalam UU Sisdiknas antara lain: “Mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggungjawab”.
Jurnal Kelompok 11
Judul : PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA
Penulis : Eni Putri Aliptia, Nala Milatina
Reviewer : Latifah
Khofifaturrohmah
Latar Belakang :
Pendidikan nasional Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai masalah.
Capaian hasil pendidikan masih belum memenuhi hasil yang diharapkan.
Pembelajaran di sekolah belum mampu membentuk secara utuh pribadi lulusan yang
dapat mencerminkan karakter dan budaya bangsa.
Kesimpulan : Pendidikan
karakter adalah suatu proses penerapan nilai-nlai moral dan agama pada peserta
didik melalui ilmu-ilmu pengetahuan, penerapan nilai-nilai tersebut baik
terhadap diri sendiri, keluarga, sesama teman, terhadap pendidik dan lingkungan
sekitar maupun Tuhan Yang Maha Esa. Penguatan pendidikan karakter siswa
disekolah sebuah keharusan. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan
aspek keilmuan dan kecerdasan peserta didik. Pembentukan karakter dan
nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri peserta didik semakin terpinggirkan. Pengembangan
pendidikan berbasis karakter dan budaya bangsa perlu menjadi program nasional.
Dalam pendidikan, pembentukan karakter dan budaya bangsa pada peserta didik
tidak harus masuk kurikulum. Dalam hal ini, membangun karakter peserta didik
mengarah pada pengertian tentang mengembangkan peserta didik agar memiliki
kepribadian, perilaku,sifat, tabiat, dan watak baik atau mulia. Keberhasilan
program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh
peserta didik sebagaimana tercantum dalam standar kompetensi lulusan (SKL).