Senin, 07 Desember 2020

REVIEW JURNAL MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN UMUM

Nama              : Latifah Khofifaturrohmah               

NPM               : 2001031018

Prodi               : PGMI (C) smt. 1                              

Mata Kuliah    : Ilmu Pendidikan Umum

 

REVIEW JURNAL

 

Jurnal Kelompok 1

Judul : HAKIKAT PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Penulis : Fitriatul Lydia Zulfa

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Pada dasarnya hakikat pendidikan sangatlah luas. Hakikat pendidikan bukanlah hanya sekedar pengertian serta definisi pendidikan semata. Didalam hakikat pendidikan banyak hal menarik untuk dipelajari, seperti objek ilmu pendidikan dan macam-macam ilmu pendidikan. Pada hakikatnya, pendidikan adalah suatu usaha manusiauntuk meningkatkan ilmu pengetahuan, yang didapat dari lembaga formal maupun nonformal.

Kesimpulan : Ilmu pendidikan adalah suatu kumpulan pengetahuan atau konsep yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik atau suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya dalam rangka mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang bermakna. Dalam Pendidikan ada yang namanya fondasi pendidikan yakni sesuatu yg mendasari pelaksanaan pendidikan, diantaranya 1) Fondasi historis 2) Fondasi filosofis 3) Fondasi sosiologis dan 4) Fondasi Sosiologis.

 

Jurnal Kelompok 2

Judul : HAKIKAT KEMANUSIAAN MANUSIA

Penulis : Aprilia Yosanita Safitri, Fitri Ambarsari      

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Hakikat manusia adalah makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.

Kesimpulan : Hakikat penciptaan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam semesta dan lingkungannya. Hakikat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. 1) Hakikat manusia menurut pandangan umum, yakni mempunyai arti bermacam-macam, karena tedapat berbagai ilmu dan perspektif yang memaknai hakikat manusia itu sendiri. 2) Hakikat manusia menurut pandangan Islam yaitu, manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT., kemandirian dan kebersamaan (individualitas dan sosialita), manusia merupakan makhluk yang terbatas. Adapun wujud sifat hakikat manusia, yaitu kemampuan menyadari diri, kemampuan bereksistensi, kata hati, tanggung jawab, rasa kebebasan, kewajiban dan hak, dan kemampuan menghayati kebahagiaan.

 

Jurnal Kelompok 3

Judul : PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU PENDIDIKAN

Penulis : Candra Murtadho, Syaffa Marantika Agustin

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Pendidikan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan juga sebagai dinamisator masyarakat itu sendiri. Ilmu pendidikan termasuk ilmu pengetahuan empiris yang diangkat dari pengalaman pendidikan, kemudian disusun secara teoritis untuk digunakan secara praktis. Dengan menempatkan kedudukan ilmu pendidikan di dalam sistematika, ilmu pengetahuan sebagai ilmu normatif dan ilmu pendidikan sebagai ilmu teoritis dan praktis.

Kesimpulan : Pendidikan merupakan aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya. Sedangkan pengetahuan adalah objek dari pada manusia melakukan proses pendidikan itu sendiri. Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratannya, yaitu; ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial).


Jurnal Kelompok 4

Judul : PENDIDIKAN PESANTREN 

Penulis : Eka Yunita Lestari, Putri Arianti

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Pendidikan pesantren adalah cikal bakal institusi pendidikan Islam di Indonesia. Keberadaan pesantren merupakan mitra ideal bagi institusi pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan dan landasan karakter bangsa. Hal ini dapat ditemukan dari berbagai fenomena yang terjadi seperti perkelahian antar sekolah dan distributor yang tersebar luas dan pengguna narkoba di kalangan anak muda jarang ditemukan mereka adalah anak-anak asrama atau lulusan dari pesantren.

Kesimpulan : Sistem Gradasi dan Kurikulum Pendidikan Pesantren dalam format tradisional memiliki sistem gradasi pendidikan dan kurikulum longgar (non-fixed curriculum) berdasarkan pada penguasaan kitab Islam klasik, artinya tidak dibatas pada rentang waktu tertentu secara pasti, seperti triwulan, caturwulan, semester atau tahun ajaran. Penggolongan kitab klasik ada tiga kelompok, yaitu kitab-kitab dasar (grade I), kitab-kitab tingkat menengah (grade II), dan kitab-kitab besar (grade III). Karena pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan, disiplin keilmuan sebagai mata pelajaran adalah mata pelajaran yang berkaitan dengan masalah keagamaan (Islam). Pesantren memiliki pendekatan edukasi yang khas yang tetap dipertahankan tanpa terpengaruh oleh teori-teori pendidikan modern yang silih berganti karena perbedaan pendekatan filosofis yang lebih mementingkan aspek moral daripada pengetahuan, haruslah demikian. Pesantren lebih menggunakan konsep pengajaran, alih-alih pembelajaran.


Jurnal Kelompok 5

Judul : TEORI-TEORI PENDIDIKAN DALAM ALIRAN KLASIK

Penulis : Helma Yanti, Uswatun Hasanah

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Belajar merupakan intisari hidup, hidup manusia yang selalu belajarlah yang dapat meningkatkan kualitas hidup. Nativisme berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh potensi sejak lahir dan lingkungan tak dapat merubahnya. Sedangkan aliran Empirisme menjelaskan bahwa manusia sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan alam sekitarnya. Aliran Konvergensi berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya sangat menentukan perkembangan manusia.

Kesimpulan : Pandangan para ilmuan mengenai pembawaan anak didik yaitu, 1) Aliran Empirisme. Tokoh utama aliran ini ialah John Locke, yang berpendapat bahwa perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. 2) Aliran Nativisme, berpendapat bahwa sejak lahir anak telah memiliki atau membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu, yang bersifat pembawaan atau keturunan. Dalam ilmu pendidikan, pandangan tersebut dikenal dengan pesimisme paedagogis. Tokoh utama aliran ini ialah Schopenhauer. 3) Aliran Konvergensi, dimunculkan oleh ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, William Stern yang mengatakan bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia. 4) Aliran Naturalisme. Pandangan aliran nativisme dan naturalisme menyatakan pendidikan sebagai bagian dari sifat pembawaan dan faktor alami manusia (individu) siswa. Naturalisme adalah teori yang menerima “natura” (alam) sebagai keseluruhan realistis.

 

Jurnal Kelompok 6

Judul : TEORI BELAJAR BERDASARKAN ALIRAN PSIKOLOGI HUMANISTIK DAN IMPLIKASI PADA PROSES BELAJAR PEMBELAJARAN

Penulis : Lailatul Fauziyah

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Pada psikologi humanistik pendidik sebagai fasilitator. Pendidik humanistik diharapkan menjadi pendidik manusiawi sehingga pendidik bisa mengarahkan peserta didik untuk meningkatkan potensi dirinya. pendidik akan melaksanakan pembelajaran dan peserta didik belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Kesimpulan : Teori humanistik bertujuan menjadikan manusia seutuhnya sehingga dapat paham terhadap perubahan lingkungan dan dirinya sendiri. Manusia  pada  pendidikan humanistik bersifat kemanusiaan yang dilihat secara filosofis, dengan hal ini paradigma pendidikan memilki harapan besar terhadap nilai pragmatis iptek tidak bisa mematikan kepentingan dan kemanusiaan. Sehingga peserta didik terjaga dari dampak negatif teknologi serta keadaan kehidupan manusia menjadi kondusif dan aman. Psikologi humanistik menganjurkan pendidik sebagai fasilitator. Pendidik humanistik adalah pendidik yang manusiawi. Psikologi humanistik mengarahkan peserta didik untuk meningkatkan potensi intelektual yang  peserta  didik  miliki. Teori belajar humanisme dipelopori oleh Abraham Maslow, Arthur Combs dan Carl Rogers.

 

Jurnal Kelompok 7

Judul : FAKTOR PENDIDIKAN

Penulis : Latifah Khofifaturrohmah

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam. pendidikan Islam sangat penting bagi manusia yaitu, untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepada-Nya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat.

Kesimpulan : Pelaksanaan Pendidikan Islam perlu diperhatikan faktor-faktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya pendidikan. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu, tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan lingkungan pendidikan. Kelima faktor tersebut merupakan satu kesatuan pendidikan yang masing-masing berdiri sendiri, tetapi berkaitan satu sama lainnya agar nantinya mencapai tujuan yang diinginkan. 


Jurnal Kelompok 8

Judul : PERAN KELUARGA, PEMERINTAH, DAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

Penulis : Lailatul Khusniaty, Sa’diyatul Khasanah

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Era globalisasi membawa dampak, baik dampak positif maupun negatif dalam kehidupan semua orang termasuk dalam keluarga. Keluarga mempunyai peranan yang besar dalam membentuk karakter anak karena waktu yang dimiliki anak semua bersama keluarga. Namun demikian, pemerintah perlu memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum, baik secara implisit, maupun eksplisit. Pendidikan akan berjalan dengan baik jika didukung oleh semua aspek  pendidikan yang meliputi keluarga, masyarakat dan sekolah.

Kesimpulan : Peran keluarga dalam pendidikan tidak dapat disangkal lagi bahwa keluarga  memunyai pengaruh yang besar dalam sosialisasi pendidikan bagi anak-anak. Orang tua adalah guru dalam pendidikan karakter yang memunyai pengaruh sangat besar dan bertahan lama karena hubungan orang tua dan anak berlangsung sepanjang hayat, tidak dapat diputus oleh siapa pun atau dengan sebab apa pun. Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidikan anak merupakan sebuah proses  mendidik, mengasuh, dan melatih jasmani dan rohani yang dilakukan orang tua sebagai tanggung jawabnya terhadap anak dengan berlandaskan nilai baik dan terpuji bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan pemerintah dengan semua aparat dan jajarannya perlu menampilkan diri sebagai pelayan yang cepat tanggap, sepat memberikan perhatian, tidak berbelit-belit, dan bukan minta dilayani. Adapun erannya yaitu, sebagai fasilitator, sebagai pendamping, sebagai mitra, dan sebagai penyandang dana. Adapun msasyarakat merupakan tempat anak berinteraksi dengan dunia luar dalam cakupan yang lebih luas. Di sinilah anak mulai belajar untuk membangkitkan minat kepada sesuatu yang dicita-citakannya.


Jurnal Kelompok 9

Judul : HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Penulis : Deni Astuti, Ecah

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Dalam masalah pendidikan, lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak atau peserta didik. Peran lingkungan dalam membentuk dan mewujudkan kepribadian seseorang, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam adalah masalah yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun, khususnya bagi orang tua, guru atau pendidik pada umumnya. Bagi peserta didik, lingkungan pendidikan adalah wadah (mediasi) untuk mengembangkan diri dan membangun karakter diri melalui berbagai kegiatan edukasi, baik program kurikuler maupun ekstrakulikuler.

Kesimpulan : Pendidikan dalam lingkungan keluarga (nonformal) memiliki peranan yang sangat penting karena setiap individu mendapatkan pendidikan yang pertama dan utama berasal dari lingkungan keluarga. Selain dari keluarga pendidikan dapat diperoleh pula dari lingkungan formal, dalam hal ini sekolah atau lembaga formal lainnya yang berkompeten dalam bidang pendidikan. Dalam lingkungan formal ini setiap individu akan mendapatkan pendidikan yang lebih luas mengenai pedoman dan etika moral kemanusiaan untuk bekalnya dalam menghadapi pergaulan di masyarakat. Lingkungan ketiga yang menjadi penentu sukses tidaknya pendidikan individu adalah lingkungan masyarakat (informal), lingkungan ini menuntut pengaplikasian pendidikan yang telah didapat oleh seorang individu baik dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan formal. Ketiga lingkup pendidikan ini tentu dapat diandalkan jika pembinaan moral agama tetap menjadi materi pendamping demi pencapaian hasil yang maksimal.

 

Jurnal Kelompok 10

Judul : SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Penulis : Mutiara Kharisma, Rosyidah Diyanah Rahmawati

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Sistem pendidikan nasional Indonesia dimaksudkan untuk menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan, serta efisiensi manajemen pendidikan dalam menghadapi tuntutan globalisasi. Era globalisasi yang sedang terjadi saat ini dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks dan persaingan sumber daya manusia yang semakin ketat, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu upaya pemerintah untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul adalah melalui pendidikan. Indonesia sebenarnya menghadapi masalah mendasar yaitu mutu pendidikan yang cenderung masih rendah. Hal ini disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia yang buruk.

Kesimpulan : Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Fungsi dari pendidikan nasional yang tertuang dalam UU Sisdiknas antara lain: “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.

 

Jurnal Kelompok 11

Judul : PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA

Penulis : Eni Putri Aliptia, Nala Milatina

Reviewer : Latifah Khofifaturrohmah

Latar Belakang : Pendidikan nasional Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai masalah. Capaian hasil pendidikan masih belum memenuhi hasil yang diharapkan. Pembelajaran di sekolah belum mampu membentuk secara utuh pribadi lulusan yang dapat mencerminkan karakter dan budaya bangsa.

Kesimpulan : Pendidikan karakter adalah suatu proses penerapan nilai-nlai moral dan agama pada peserta didik melalui ilmu-ilmu pengetahuan, penerapan nilai-nilai tersebut baik terhadap diri sendiri, keluarga, sesama teman, terhadap pendidik dan lingkungan sekitar maupun Tuhan Yang Maha Esa. Penguatan pendidikan karakter siswa disekolah sebuah keharusan. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan peserta didik. Pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri peserta didik semakin terpinggirkan. Pengembangan pendidikan berbasis karakter dan budaya bangsa perlu menjadi program nasional. Dalam pendidikan, pembentukan karakter dan budaya bangsa pada peserta didik tidak harus masuk kurikulum. Dalam hal ini, membangun karakter peserta didik mengarah pada pengertian tentang mengembangkan peserta didik agar memiliki kepribadian, perilaku,sifat, tabiat, dan watak baik atau mulia. Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam standar kompetensi lulusan (SKL).

REVIEW JURNAL MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN UMUM

Nama              : Latifah Khofifaturrohmah                NPM               : 2001031018 Prodi               : PGMI (C) smt. 1        ...